Ingin Tinggal di Kutub Selatan? Simak 4 Fakta Unik Ini!

Ingin Tinggal di Kutub Selatan? Simak 4 Fakta Uni Ini!

Sejak sejumlah penjelajah dari berbagai dunia melihat dan menginjakkan kaki di Kutub Selatan atau benua Antartika pada 1800-an, hingga kini titik terbeku di Bumi itu masih jarang dihuni oleh manusia. Alasan paling utama yang membuat tempat itu jarang dihuni adalah, suhu dingin ekstrem di bawah 0 derajat Celcius.

Namun, pada 1900-an, ketika eksplorasi ilmu pengetahuan –diselubungi motif politik guna ekspansi wilaya– di Antartika semakin menarik perhatian, sejumlah negara mulai memikirkan strategi, guna bertahan hidup pada cuaca dingin ekstrem di kawasan.

Berbagai negara, seperti Skotlandia, Inggris, Amerika Serikat, Rusia, China, dan lainnya, telah menapakkan kaki dan membangun struktur bangunan serta fasilitas di daratan paling beku di Bumi itu. Tercatat, hingga kini, terdapat 77 fasilitas penelitian dan struktur bangunan yang didirikan oleh berbagai negara dunia.

Bagi para individu yang tinggal di fasilitas tersebut, bekal pengetahuan tentang bertahan hidup di situasi ekstrem merupakan hal wajib yang harus dipahami. Tak hanya cuaca dingin. mereka yang tinggal di Antartika juga harus berhadapan dan membiasakan diri dengan sejumlah peristiwa alam yang anomali.

Dari sejumlah aspek, berikut 4 fakta unik mengenai Antartika dan Kutub Selatan bagi Anda yang ingin tinggal atau berkunjung kesana.

1. Matahari Terbit dan Terbenam Setahun Sekali

Ingin Tinggal di Kutub Selatan? Simak 4 Fakta Uni Ini! - 2Karena lokasi Antartika yang secara geografis berada di posisi paling bawah dan selatan Bumi, kemunculan matahari di kawasan tersebut tidak seperti wilayah lain di sejumlah negara. Dan oleh sebab itu, fenomena matahari terbit dan terbenam hanya terjadi sebanyak setahun sekali.

2. Tidak Berlaku Prinsip Siang dan Malam

Ingin Tinggal di Kutub Selatan? Simak 4 Fakta Uni Ini! - 3Hal ini turut dipengaruhi berdasarkan fakta pada halaman pertama. Matahari yang hanya terbit dan terbenam selama satu tahun sekali, membuat prinsip waktu siang dan malam tidak berlaku di Kutub Selatan.

Ketika terbit, matahari akan terus bersinar di Kutub Selatan 24 jam setiap harinya selama sekitar enam bulan, menandai musim panas di kawasan. Karena matahari terus berada di langit, siang dan malam pun tidak dibedakan selama enam bulan ke depan. Sehingga, ketika waktu di jam menunjukkan pukul 00.00 dini hari, situasi di Antartika selama musim panas akan nampak seperti siang hari.

Prinsip itu berlaku sebaliknya ketika matahari mulai terbenam di Antartika selama musim dingin. Menandai situasi malam hari konstan selama sekitar 6 bulan di kawasan.

3. Mendekati Atmosfer

Ingin Tinggal di Kutub Selatan? Simak 4 Fakta Uni Ini! - 4Kasat mata, menginjakkan kaki di Antartika hampir serupa dengan menginjakkan kaki di benua lain di Bumi. Namun, kenyataannya, ketika seorang individu berdiri di Kutub Selatan, itu berarti bahwa mereka sedang berdiri di ketinggian gunung setara dengan 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Ketinggian itu, sama seperti berdiri di atas gunung tinggi, menyebabkan seorang individu semakin dekat dengan atmosfer Bumi. Dan, semakin dekat dengan atmoster Bumi membuat kadar oksigen mengalami penipisan.

Berada di situasi dengan ketinggian tersebut dan kadar oksigen yang tipis, akan membuat sejumlah individu mengalami gejala pusing dan sulit bernapas, gejala serupa yang dialami oleh pendaki gunung tinggi. Gejala itu pula yang membuat sebagian orang –yang tidak biasa– mengalami sulit untuk tidur di Antartika.

4. Harus Siap ‘Terjebak’ Berbulan-Bulan

Ingin Tinggal di Kutub Selatan? Simak 4 Fakta Uni Ini! - 5Ketika musim dingin melanda di Antartika, para individu yang tinggal di fasilitas penelitian di sana, harus mempersiapkan fisik dan mental guna menghadapi situasi ‘terjebak di daratan dingin nan beku’ selama berbulan-bulan.

Mereka harus siap bahwa, beberapa bentuk transportasi dan distribusi logistik tidak dapat berfungsi. Pesawat tidak dapat beroperasi di musim dingin, karena risiko cuaca buruk, sulitnya navigasi, potensi badai es, serta membekunya bahan bakar minyak akibat suhu di bawah 0 derajat Celcius. Sementara itu, sejumlah kapal laut tidak akan mampu menyentuh pesisir daratan Antartika, ketika seluruh air berubah menjadi lapiran es tebal.

Selama musim dingin itu, para individu yang tinggal di fasilitas penelitian di Antartika juga harus menyiapkan psikis dan mental guna menghadapi situasi terisolasi. Mereka harus siap untuk berinteraksi dengan sejumlah individu yang sama, melakukan rutinitas berulang-ulang, dan beraktivitas di area yang terbatas selama berbulan-bulan.